Memberantas Radikalisme

Semakin banyak orang yang mengkafirkan orang lain, merasa paling bener, memaksakan kehendaknya agar orang lain harus sama dengan dirinya, menjadi ujub dan takabur, karena urusan menkafirkan orang adalah wilayahnya Allah. Senada dengan Cak Nun : “Wis anggaplah aku ini kafir fir, terus opo hakmu utowo hak wong liyo terhadap aku, Iki menyangkut martabat manusia, benar kafir tidak orang itu, wilayahnya Allah ” (http://www.rakyat.win/2015/11/pukulan-telak-cak-nun-kepada-kaum-yang_21.html)

Pemahaman irasional tersebut menimbulkan berbagai macam benturan, karena pemahaman tersebut mampu menggerakan sekelompok masyarakat yang tidak mau berpikir, tidak open mind, dan selalu menanggap orang lain atau kelompok lain “salah”. Sehingga wajar jika Menteri Lukman Hakim mengatakan : ” Mengkafirkan orang lain akan ditindak”. (Baca https://beritagar.id/artikel/bincang/menteri-lukman-hakim-mengkafirkan-orang-lain-akan-ditindak).

Kaum radikal, yang selalu saja mengkafirkan orang lain perlu diimbangi dengan wadah yang mendukung Anti Radikal agar masyarakat yang menjadi korban radikalisme atau tidak menyukai adanya paham radikalisme terakomodir. Ketua Bidang Budaya Yayasan Lantera, Kang Dhani berprinsip untuk terus menjalin silaturahmi dengan seluruh masyarakat termajinalkan sebagai bentuk keseimbangan dari adanya radikalisme. Untuk itu saat ini , Kang Dhani sedang terus melakukan konsolidasi  ke seluruh daerah sebelum diberikan payung hukum untuk organisasi berbasis anti radikal tersebut. Rencana pembentukan organisasi berbasis anti radikal tersebut dipelopori oleh Kang Dikcy Zainal Arifin selaku pembina Yayasan Lantera.

 

Related posts:

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLinkedInAmazon Wish ListBlogger PostLineShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *