Asah Kepekaan melalui Toleransi

Menurut Kompas (9 Juli 2016), Umat Islam seyogyanya mengembangkan toleransi dengan menghargai perbedaan. Toleransi merupakan watak Islam yang perlu dikedepankan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Idul Fitri juga menjadi momentum untuk menumbuhkan kepekaan sosial.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Din Syamsuddin dalam khotbah shalat Idul Fitri 1437 Hijriah di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), mengatakan bahwa hawa nafsu membuat sebagian anak bangsa terjebak dalam fanatisme buta dalam membela agama atau apapun yang mereka yakini sebagai kebenaran. Hal ini mengindikasikan kerusakan moral yang berpotensi meruntuhkan kehidupan berbangsa. Menurutnya “Kita ditakdirkan berada dalam latar dan suasana kemajemukan, baik atas dasar agama, suku, bahasa dan budaya, maupun paham keagamaan dan organisasi kemasyarakatan”.

Selain fanatisme buta, hawa nafsu mendorong manusia pada keburukan. Hawa nafsu menjelma dalam berbagai bentuk kekerasan, pembunuhan, fitnah dan berbagai bentuk kejahatan lainnya. Tentunya pendapat Din Syamsuddin merupakan doktrin yang seharusnya dipahami oleh seluruh anggota MUI dari Top sampai Bottom. Faktanya fanatisme buta berbentuk fitnah yang mendapatkan perhatian MUI di daerah tidak dapat diselesaikan melalui proses Tabayyun. Sebagai contoh, fenomena Novel Arkhytirema yang dijadikan landasan berpikir  untuk memberikan label menyimpang penulisnya merupakan bentuk dagelan yang baru terjadi di dunia ini. Jika Novel dianggap sebagai data valid untuk menentukan penulis sebagai orang yang menyimpang / sesat, berikutnya penulis Novel lain yang isinya seluruhnya dongeng belaka dimungkinkan akan dipermasalahkan jika pola pikir tidak disetting untuk menghargai perbedaan.

Sementara khatib Shalat Idul Fitri di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Akhmad Sagir, mengajak umat Islam untuk menumbuhkan kepekaan sosial, selain membangun kejujuran, etos dan etika kerja. Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Nasarudin Umar dalam khotbahnya mengajak umat Islam untukmenyiapkan generasi muda agar siap dalam lingkungan sosial budaya yang berbeda.

Ketiga pendapat Imam tersebut intinya menghendaki adanya toleransi untuk mengasah kepekaan sosial, namun kepekaan sosial hanya dapat terasah oleh umat yang mau menggunakan akalnya saja.

Related posts:

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLinkedInAmazon Wish ListBlogger PostLineShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *