MENGKAJI PEMAHAMAN EMHA AINUN NAJIB

Sampean pilih dadi wong ra shalat ning apikan atau pilih dadi wong shalat ning jahat ?”.(kalian memilih jadi orang yang tidak shalat tapi kelakuan baik atau memilih shalat tapi kelakuan buruk?). Hingga ada seorang ibu yang protes dan memilih shalat plus kelakuan baik, yang kemudian dikatai Emha “gragas” (rakus). Pendapat Emha Ainun Najib tersebut cukup menarik mengingat pada kenyataannya banyak orang yang mengerjakan Shalat tetapi menjadi orang jahat. Kritik dalam pernyataan “gragas” kepada seorang Ibu  mungkin juga tepat, karena sangat dimungkinkan Emha memahami mendirikan sholat yang jelas berbeda dengan mengerjakan sholat. Bagi mereka yang gagal paham, menurut KH, Yusuf Chudlori, mereka merasa paling benar, gampang menyalahkan, dan mengkafirkan orang lain karena Sholat hanya sebatas kulitnya, bukan menghasilkan akhlak mulia. Selanjutnya dikatakan, asal-usul bibit radikalisme atas nama agama berasal dari pengakuan orang yang khusyuk menjalankan syariat tapi gagal paham.

Tentunya kalau memahami makna mendirikan Sholat, Ibu tersebut tidak lantas memprotes memilih Shalat plus berkelakuan baik. Adanya gagal pemahaan mengenai makna mendirikan sholat karena membatasi pemahaman makna sholat, sehingga protes tersebut berarti menyalahkan pendapat Emha Ainun Najib. Mendirikan sholat tentunya akan lebih memahami makna spiritual dari pada sekedar mengerjakan sholat. Dengan mendirikan Sholat, makna spiritual teraplikasi pada kehidupan sehari-hari dalam bentuk perbuatan baik. Namun mereka yang hanya mengerjakan Sholat terbukti dapat berbuat jahat karena tidak memahami makna spiritual.

Selaras dengan pendapat Agus Mustofa bahwa “Keimanan bukanlah “sekedar status” yang menempatkan seorang muslim dalam derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan muslim lainnya. Yang karenanya lantas bisa disombong-sombongkan. Keimanan adalah komitmen yang menempatkan kita di “jalur spiritual”, yang justru mendaki ke jalanan terjal. Meskipun, di ujung sana, Allah sedang menanti siapa saja yang bisa mencapai finish, dengan suguhan “air surga” nan sejuk menyegarkan ” (http://agusmustofa.com/?page=ngaji&id=21).

Ketiga pandangan tersebut terlihat “senada” walaupun berbeda, dan mencoba meluruskan adanya kegagalan pemahaman dalam pemaknaan sholat serta keimanan. Terkait dengan pendapat Agus Mustofa tersebut bahwa “Keimanan adalah komitmen yang menempatkan kita di “jalur spiritual” tidak lantas mudah dibangun hanya sekedar melaksanakan ritual, sehingga tepat pendapat Emha Ainun Najib yang mementingkan makna Spiritual yang berarti menghendaki masyarakat berbuat baik dengan cara mengingat Allah.

 

Related posts:

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLinkedInAmazon Wish ListBlogger PostLineShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *