Tips Berpuasa Bagi Penderita Diabetes

Puasa bukanlah halangan bagi penyandang Diabetes Mellitus (DM) atau biasa disebut diabetesi. Hanya saja, persiapan dan kedisplinan dalam memonitoring kadar gula darah secara berkala harus menjadi kewajiban utama yang perlu dipahami penderita diabetes berpuasa.

Penderita diabetes yang ingin puasa terbagi dalam empat golongan resiko, yaitu :

1. Resiko Paling Tinggi

  • Menderita DM tipe 1
  • Sedang hamil
  • Menjalani cuci darah
  • Gula darah sering turun mendadak (drop),dan mengalami ketoasidosis berulang. Ketoasidosis adalah salah satu komplikasi akut pasien DM yang terjadi karena kadar glukosa dalam darah sangat tinggi.

2. Resiko Tinggi

  • Mengalami gangguan ginjal
  • Tinggal sendiri
  • Sementara pemakai insulin atau sulfonilurea
  • Orangtua yang sakit-sakitan.

3. Resiko Sedang

  • Pasien DM terkontrol pemakai sulfonilurea atau glinid.

4. Resiko Ringan

  • Diabetesi yang terkontrol dengan diet saja atau mengonsumsi metformin atau TZD.

Perubahan dalam tubuh selama berpuasa

Dalam kondisi puasa, tubuh manusia dapat berfungsi dengan baik karena terdapat berbagai macam hormon dalam tubuh yang mengatur keseimbangan kerja organ-organ tubuh. Diabetes Mellitus  merupakan salah satu contoh dari kondisi dimana tubuh kekurangan salah satu hormon  yang dinamakan insulin. Hormon ini berfungsi untuk menurunkan kadar gula dalam darah. Secara singkat dapat dikatakan bahwa Diabetes Mellitus merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh kurangnya jumlah dan kerja insulin  dalam tubuh.

Insulin di dalam tubuh diproduksi oleh suatu kelenjar yang disebut pankreas.  Pada orang yang tidak mengalami diabetes, pengeluaran insulin dari pankreas diantaranya dipicu oleh adanya glukosa yang masuk ke dalam darah. Glukosa tersebut dapat berasal dari asupan makanan yang mengandung karbohidrat. Kadar glukosa yang normal di dalam darah (60mg/dL-150mgdL) sangat diperlukan untuk memberikan asupan energi bagi kerja sel-sel penting dalam tubuh, seperti sel otak, sel saraf, sel darah, sel otot dan lain-lain.

Dengan bantuan insulin inilah melalui suatu proses yang rumit, makanan yang masuk ke dalam tubuh akan digunakan untuk pembentukan energi dan sisanya akan disimpan sebagai cadangan makanan atau energi yang disimpan dalam hati (liver) dan otot sebagai zat yang dikenal dengan nama glikogen.

Sebaliknya, dalam keadaan puasa dimana asupan makanan menurun maka produksi dan penggunaaan insulin juga akan menurun. Dalam kondisi ini, aktifitas hormon tubuh lain seperti  glukagon (hormon yang berfungsi untuk menaikan kadar gula dalam darah) dan katekolamin (zat yang dapat meningkatkan kerja organ-organ  dalam tubuh) sebaliknya akan meningkat untuk membantu pemecahan cadangan makanan atau energi yang ada dalam tubuh  atau yang telah disebutkan diatas sebagai glikogen.

Karena puasa berlangsung selama 14 jam, maka cadangan glikogen dalam tubuh jumlahnya akan menurun. Rendahnya kadar glikogen dalam tubuh akan merangsang tubuh untuk memecah atau membakar lemak sebagai bahan makanan dan sumber energi lain bagi tubuh.

Pembakaran asam lemak  ini akan menghasilkan zat  yang disebut keton. Seperti halnya glikogen, zat keton ini juga dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk kerja otot jantung dan otot tubuh lainnya, semisal kerja hati dan organ tubuh lainnya. Pada orang tanpa diabetes, semua proses ini berlangsung secara seimbang karena insulin yang digunakan untuk proses di atas cukup tersedia di dalam tubuh untuk menyeimbangkan proses-proses tersebut.

Bahaya yang dapat timbul selama berpuasa

Kurangnya jumlah dan kerja insulin dalam tubuh seperti yang telah dijelaskan di atas, mengakibatkan orang yang mengalami diabetes berpotensi untuk mengalami berbagai macam gangguan yang dapat membahayakan kondisi fisik sebagai akibat dari tidak seimbangnya proses-proses yang disebutkan di atas. Bahaya yang mungkin timbul akibat berpuasa bagi orang dengan diabetes tanpa perencanaan yang tepat diantaranya adalah hipoglikemi, hiperglikemi, ketoasidosis, dehidrasi dan trombosis.

1. Hipoglikemi

Hipoglikemi berarti menurunnya kadar gula dalam darah.  Tanda dan gejala yang umum terjadi selama hipoglikemia adalah: rasa lapar, lemas, gemetaran, keluar keringat dingin, penglihatan menjadi kabur, pusing, mengantuk dan sulit berkonsentrasi. Kadar gula darah pada orang yang mengalami hipoglikemi kurang dari 60 mg/dL. Dalam keadaan puasa, hipoglikemi dapat terjadi akibat dari kurangnya makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Hipoglikemi selain menimbulkan tanda dan gejala seperti yang disebutkan tadi, jika terlambat mendapatkan pertolongan dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanen. Hipoglikemi lebih mudah terjadi pada orang diabetes yang mendapatkan terapi obat-obatan golongan Sulfonilurea dibandingkan dengan yang mendapatkan terapi obat-obatan seperti Metformin & Glitazon. Selain itu menurut penelitian, hipoglikemi lebih mudah terjadi pada pasien diabetes tipe 1 dibandingkan dengan pasien diabetes tipe 2 yang menggunakan insulin untuk mengontrol kadar gula darahnya.

2. Hiperglikemi

Sebaliknya, orang diabetes yang berpuasa dapat mengalami hiperglikemi (peningkatan kadar gula darah lebih dari 200 mg/dL). Hiperglikemi dapat terjadi sebagai akibat dari pengurangan dosis insulin yang dilakukan dengan asumsi bahwa dosis insulin yang disuntikan jumlahnya disesuaikan dengan jumlah makanan yang dikonsumsi.

Asumsi tersebut tentu saja tidak tepat, karena seperti telah dijelaskan sebelumnya walaupun dalam keadaan puasa  proses pemecahan glikogen dan lemak yang akan meningkatkan kadar gula darah tetap terjadi. Hiperglikemi ini jika tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan timbulnya ketoasidosis (DKA) yang ditandai dengan adanya mual, muntah, pengeluaran urin yang berlebihan, tidak mau makan, sampai terjadi penurunan kesadaran.

Dehidrasi dan trombosis. Dalam keadaan berpuasa, dehidrasi (kurang cairan  tubuh) dapat terjadi karena kurangnya asupan air. Di negara yang beriklim tropis seperti Indonesia, dimana kelembaban udara sangat tinggi, maka pengeluaran keringat akan meningkat, sehingga memungkinkan terjadinya dehidrasi selama berpuasa. Pada orang diabetes dengan kadar gula darah yang  masih tinggi akan mengeluarkan urin dalam jumlah yang berlebihan sehingga menyebabkan dehidrasi.

Dehidrasi dapat menjadi ancaman jiwa karena dehidrasi menyebabkan  berkurangnya cairan yang beredar dalam tubuh. Kurangnya cairan  dalam tubuh akan menyebabkan penurunan tekanan darah. Selain itu, dehidrasi akan meningkatkan kekentalan darah yang selanjutnya menyebabkan menurunnya kecepatan aliran darah dan menyebabkan peningkatan proses penggumpalan darah dalam tubuh yang akan meningkatkan resiko timbulnya sumbatan dalam pembuluh darah (trombosis) seperti pada pembuluh darah mata, ginjal, atau pembuluh darah pada otak sekalipun.

Perencanaan untuk berpuasa

Seringkali seseorang dengan diabetes sangat terpengaruh oleh cerita tentang pengalaman orang lain yang juga mengalami diabetes bahwa dengan menjalani puasa Ramadhan orang tersebut akan merasa lebih sehat dari sebelumnya. Pengalaman orang lain tersebut, selayaknya harus disikapi secara bijaksana oleh orang yang mengalami diabetes. Keputusan untuk tetap menjalankan ibadah puasa pada akhirnya memang merupakan keputusan pribadi.

Namun seringkali disayangkan  karena pada umumnya keputusan tesebut semata-mata diambil atas dasar keinginan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan tanpa dilengkapi dengan pemahaman mengenai bahaya yang mungkin timbul selama berpuasa. Kemungkinan  timbulnya resiko tersebut memang sangat tergantung dari kondisi kesehatan setiap orang, seperti tinggi rendahnya kadar gula darah, pengobatan diabetes yang digunakan ataupun adanya penyakit lain yang mungkin menyertai. Oleh karena itu pemeriksaan secara medis sangat diperlukan bagi setiap orang yang mengalami diabetes sebelum memutuskan untuk berpuasa.

Perencanaan berpuasa bagi orang yang mengalami diabetes:

1. Personal

Perencanaan puasa merupakan hal yang harus dirancang berdasarkan kondisi setiap individu. Setiap orang yang mengalami diabetes memiliki kondisi diabetes yang unik sehingga sangat berbahaya untuk menerapkan pengalaman berpuasa orang lain kepada diri sendiri. Perbedaan pengobatan yang dijalani oleh seseorang dengan diabetes merupakan salah satu contoh dari keunikan tersebut. Oleh karena itu penting bagi orang diabetes untuk memahami obat-obatan apa yang digunakan selama ini, bagaimana cara kerjanya dan efeknya termasuk pengaruh obat tersebut selama berpuasa.

2. Memeriksa gula darah lebih sering

Untuk tujuan pemantauan resiko adanya hipoglikemi dan hiperglikemi selama puasa,  seseorang dengan diabetes harus lebih sering memeriksakan gula darahnya.

3. Diet

Pada prinsipnya diet selama bulan puasa harus sama dengan diet sehari-hari, yaitu diet dengan menu seimbang dengan perhitungan kalori yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Juga disarankan untuk banyak minum pada malam hari dan memastikan bahwa makan sahur dilakukan seakhir atau selambat mungkin sebelum Imsyak tiba.

4. Aktifitas

Aktifitas normal sehari-hari perlu diperhatikan.  Bagi orang dengan diabetes, kegiatan fisik yang berlebihan selama berpuasa dapat menyebabkan hipoglikemi sehingga harus dihindari. Shalat Taraweh merupakan salah satu contoh tambahan kegiatan fisik yang dilakukan selama bulan puasa dan perlu diwaspadai dapat menyebabkan timbulnya hipoglikemi. Oleh karena itu disarankan untuk makan seimbang sebelum Shalat Taraweh.

5. Berbuka puasa

Orang dengan diabetes yang berpuasa harus segera membatalkan puasanya jika merasakan adanya gejala hipoglikemi. Disarankan agar orang diabetes selalu menyediakan bekal makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat sederhana (karbohidrat yang dapat diolah secara cepat menjadi gula di dalam tubuh, misalnya air yang mengandung gula, jus, atau roti putih) untuk segera dikonsumsi saat merasakan gejala hipoglikemi atau segera membatalkan puasa pada saat Magrib tiba. Hal ini sesuai dengan seruan Nabi yang berbunyi:

“Senantiasa manusia itu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”  (H.R. Bukhori dan Muslim).

6. Medical check up Pra-Ramadan

Semua orang dengan diabetes yang berkeinginan untuk tetap berpuasa selama bulan Ramadhan sangat disarankan untuk menjalani pemeriksaan dan berkonsultasi kepada dokter ahli diabetes. Dokter terutama akan memeriksa pola kadar gula darah, tekanan darah, kadar kolesterol, fungsi ginjal dan fungsi hati. Melalui pemeriksaan ini akan diketahui apakah seorang dengan diabetes dapat berpuasa secara aman,  seberapa besar resiko yang mungkin terjadi jika berpuasa, dan dokter akan melakukan penyesuaian dosis dan waktu penggunaan obat-obatan dan insulin untuk mengurangi resiko akibat berpuasa.

7. Edukasi dan Konseling

Selain melakukan pemeriksaan medis dengan dokter ahli diabetes, orang dengan diabetes perlu  berkonsultasi kepada edukator diabetes seperti ahli gizi dan perawat edukator diabetes mengenai perawatan mandiri selama berpuasa, diantaranya adalah mengenai tanda dan gejala hipo/hiperglikemi, pemantauan gula darah, perencanaan  makanan dan kegiatan sehari-hari selama berpuasa. Walaupun di Indonesia belum menjadi kebiasaan umum, orang dengan diabetes sangat disarankan untuk menggunakan gelang pengenal sebagai orang diabetes, sehingga jika terjadi sesuatu akan segera mendapatkan pertolongan yang tepat.

8. Meminum Kangen Water Ph 8,5 Saat sahur dan Berbuka

Meminum Kangen water PH 8,5 mampu menurunkan gula darah secara efektif pada saat bulan Puasa saja, karena pada prinsipnya pada saat menjalankan puasa otomatis gula darah juga mulai stabil. Namun selain di bulan Puasa, metode tersebut lebih efektif menurunkan gula darah dengan meminum Kangen Water dengan Ph 9,5.

Saat menjalankan puasa, pasien DM mesti mewaspadai adanya hipoglikemia atau gula darah terlalu rendah, juga hiperglikemia atau gula darah terlalu tinggi. Selain itu, mereka juga hati-hati jika terjadi ketoasidosis,di mana darah menjadi asam.Yang perlu diperhatikan adalah : ”Jangan sampai juga terjadi dehidrasi dan timbulnya bekuan di pembuluh darah”.

Diabetesi mesti membatalkan puasa saat gula darah turun menjadi 60 mg/dl atau kurang. Juga, gula darah turun di sekitar 70 mg/dl pada jam-jam awal,terutama pemakai insulin, sulfonilurea atau glinid yang dipakai saat sahur. Waspada jika gula darah naik lebih dari 300 mg/dl.

Persyaratan Penderita Diabetes Berpuasa

Penyandang diabetes tidak boleh menganggap dirinya berbeda dengan orang yang non-diabetes. Sama saja, tetapi harus memerhatikan beberapa hal untuk menstabilkan kadar gula darah. Beberapa hal yang harus diwaspadai bagi penderita diabetes yang melakukan puasa di antaranya risiko gula darah terlalu rendah (hipoglikemia), gula darah terlalu tinggi (hiperglikemia), darah menjadi asam, dan kekurangan cairan sehingga timbul bekuan di pembuluh darah.

Ini adalah hal-hal yang harus diwaspadai bagi mereka penderita diabetes yang ingin melakukan puasa. Masih ada waktu sebulan untuk mengontrol dan mengatur kestabilan kadar gula darah agar dapat berpuasa dengan fit. Pengaturan makan selama puasa pada penderita diabetes, perlu mendapat perhatian.
Selama puasa, penting untuk penderita diabetes melakukan monitor gula darah. Selama ini, banyak pasien tidak mengecek gula darah karena ada anggapan akan membatalkan puasa. Padahal, periksa gula darah sama sekali tidak membatalkan puasa. Periksa gula darah perlu lebih ketat terutama saat ada gejala hipoglikemia dan hiperglikemia.

Berpuasa Penderita Diabetes

Sebelum menjalankan puasa, sebaiknya Anda melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli. Pasalnya, makanan dan minuman saat sahur dan berbuka biasanya mengandung kadar gula dan kar- bohidrat yang tinggi. Diabetes bisa menjadi hambatan dalam menjalankan ibadah puasa apabila tidak berhati-hati. Disarankan penderita diabetes yang sudah menggunakan insulin tidak diwajibkan untuk berpuasa,karena ini bisa terjadi hipoglikemia, dan ini bahaya.

Penderita diabetes yang belum memiliki ketergantungan pada insulin, bisa berpuasa sebagaimana orang kebanyakan. Hal yang terpenting, jangan meminum obat peningkat insulin pada saat sahur, karena insulin yang meningkat tidak disertai asupan makan sesudahnya, dapat menyebabkan hipoglikemia. Obat insulin yang biasanya diminum pada pagi hari, pada saat puasa sangat dianjurkan untuk diminum pada saat berbuka saja.

Dihimbau agar makanan yang manis dan mengandung karbohidrat tinggi dijadikan menu berbuka puasa karena dapat mengembalikan energi yang hilang pada saat berpuasa. Buah kurma adalah contoh makanan berbuka yang baik, karena mengandung karbohidrat tinggi, namun sebaiknya tidak dimakan secara berlebihan juga.

Cadangan Energi

Pada saat sahur, penderita diabetes juga diimbau untuk banyak mengonsumsi makanan manis, untuk cadangan energi selama berpuasa, asal jangan berlebihan. Tetapi, sangat dianjurkan makanan manis diperoleh dari bahan makanan alami seperti buah-buahan. Banyak hal yang harus diperhatikan, seperti memprioritaskan pola makan sehat dengan mengonsumsi buah dan sayur mayur, mengukur kadar gula darah secara berkala, menyesuaikan jadwal pemberian obat, serta mengenali gejala penurunan dan peningkatan gula darah.

Bagi penderita diabetes, sebaiknya segera membatalkan puasa apabila gula darah turun menjadi 60 mg/dl. Sementara bagi pemakai insulin sulfonilurea atau glind bisa berbuka bila gula darah turun di sekitar 70 mg/dl di jam-jam awal atau gula darah naik lebih dari 300 mg/dl.

Berikut adalah beberapa pedoman bagi seorang diabetesi, apakah sebaiknya berpuasa:

 Anda dapat berpuasa dengan aman bila:

  • Anda telah meminta saran dokter mengenai kondisi kesehatan Anda dan mendapatkan obat-obatan yang sesuai selama berpuasa.
  • Anda dapat mengendalikan diri tidak mengkonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan pada saat berbuka dan sahur.

Anda sebaiknya tidak berpuasa bila:

  • Diabetes Anda tidak terkelola dengan baik.
  • Anda memiliki komplikasi diabetes serius seperti penyakit jantung atau hipertensi.
  • Anda sedang hamil atau menyusui.
  • Anda memerlukan pengawasan atau perawatan harian (seperti pada lansia atau mereka yang memiliki masalah kesadaran atau pemahaman).
  • Anda sedang sakit dengan kondisi temporer seperti flu dan lainnya yang cukup berat.
  • Anda memiliki riwayat diabetik ketoasidosis (kedaruratan yang terjadi saat gula darah tidak tersedia sebagai sumber tenaga sehingga tubuh menggunakan lemak sebagai penggantinya) atau Anda rentan pingsan karena hipoglikemi.

Beberapa tips berpuasa bagi penderita diabetes:

  • Mintalah saran dokter sebelum dan selama berpuasa, karena mereka mungkin akan mengubah atau mengganti obat yang harus Anda konsumsi.
  • Jangan menghentikan pengobatan, tetapi dosis dan waktunya harus disesuaikan dengan waktu berpuasa.
  • Usahakan untuk menambah porsi makanan yang lambat dicerna seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan biji-bijian sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah segera setelah berbuka.
  • Usahakan untuk makan sahur sedekat mungkin dengan waktu imsak/subuh, bukannya di tengah malam. Hal ini akan membuat gula darah lebih terjaga selama masa berpuasa.
  • Pantaulah kadar gula darah Anda secara ketat, misalnya tiga jam setelah berbuka atau sebelum makan sahur dan di siang hari. Hasil pengukuran dapat menunjukkan bagaimana tubuh Anda beradaptasi terhadap rutinitas baru.
  • Minumlah banyak air tawar di malam hari. Kurangi konsumsi teh dan kopi karena cenderung merangsang keluarnya air seni sehingga memicu dehidrasi di siang hari.
  • Bila Anda mengalami gejala kadar gula rendah (hipoglikemi) seperti berkeringat, gelisah, gemetar, lemah atau bingung, sebaiknya segera berbuka dengan minuman bergula yang diikuti makanan kaya karbohidrat.
  • Setelah Ramadhan, kunjungi dokter untuk memastikan kadar gula darah Anda terkelola dengan baik dan apakah obat-obatan yang diberikan perlu disesuaikan kembali.

Menu, pola makan dan aktivitas bagi penderita diabetes saat berpuasa:

  1. Makan sahur diakhirkan.
  2. Konsumsi total serat 50 gram sehari.
  3. Konsumsi wortel mentah setiap harinya (1-3 umbi wortel).
  4. Melakukan aktivitas fisik sehari-hari wajar seperti biasanya.
  5. Beristirahat sejenak (untuk sholat, tiduran, mengaji) setelah sholat Dhuhur.
  6. Jumlah asupan kalori sehari selama bulan puasa sama dengan jumlah asupan kalori sehari-hari yang disarankan oleh dokter/ahli gizi sebelum puasa.
  7. Tambahkan bawang merah ke setiap hidangan makanan, karena bawang merah memiliki khasiat menurunkan gula dan lemak darah.
  8. Perlu mengatur pembagian porsi makan: 40% dikonsumsi saat sahur, 50% saat berbuka puasa, dan 10% malam hari sesudah sholat tarawih dan sebelum tidur.
  9. Penderita DM selain minum obat dokter, sebaiknya juga minum sari kacang panjang sebanyak setengah hingga satu gelas setiap hari. Pagi hari saat sahur, dibiasakan minum jus wortel 1 gelas dan jus bayam setengah gelas. Sore saat berbuka puasa, minum jus wortel 1 gelas, lettuce setengah gelas, kacang panjang sepertiga gelas, dan toge sepertiga gelas. Saat sebelum makan (besar di) malam hari, minum jus wortel 1 gelas, celery setengah gelas, petercelli seperempat gelas.
  10. Jika Anda mengambil insulin, Anda akan membutuhkan lebih sedikit insulin sebelum mengawali puasa.
  11. Jenis insulin yang Anda gunakan mungkin harus diubah dari yang biasanya Anda gunakan.
  12. Insulin pra-campuran tidak dianjurkan selama puasa.
  13. Sebelum memulai puasa, Anda juga harus mengonsumsi makanan rendah glikemiks.
  14. Periksa kadar glukosa darah Anda lebih sering dari biasanya.
  15. Ketika berbuka, makanlah dalam jumlah kecil, dan hindari makan makanan manis.
  16. Saat buka puasa, Anda harus memperbanyak minum air dan menghindari minuman manis atau berkafein
  17. Perbanyak serat dan kurangi makanan berlemak.

 

Sumber : Analisis Bisube dan http://lantera.id/2016/06/17/tips-berpuasa-bagi-penderita-diabetes/

Related posts:

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLinkedInAmazon Wish ListBlogger PostLineShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *