Generator Tanpa Bahan Bakar (GTBB) Rekayasa Mandiri Energi 2025

Mandiri dalam bidang energi? Kenapa tidak? Kira-kira kata itu yang tepat dalam menanggapi krisis energi yang terjadi di Indonesia. Kondisi listrik yang byar pet, rasio elektrifikasi yang masih di bawah angka ideal, dan kurang sinkronnya regulasi antar sektor menyebabkan koordinasi sektor energi berjalan melambat.

Gambaran teknis mandiri energi 2025-2050 menurut implementasi Kebijakan Energi Nasional (KEN) diantaranya di sektor Minyak adalah; Pengurangan impor BBM secara bertahap dari 45% (tahun 2015) menjadi 0% (tahun 2025) , dan jugap pengurangan persentase ekspor minyak mentah secara bertahap dari 38% (tahun 2015) menjadi 15% (tahun 2025). Di sektor Gas Bumi direncanakan pengurangan persentase ekspor gas bumi secara bertahap dari 41% (tahun 2015) menjadi 0% (tahun 2040). Potensi adanya impor gas bumi mulai tahun 2020.  Meningkatnya impor LPG hingga tahun 2025  -sebagian dialihkan ke jaringan gas kota (harus sangat masif).  Sedangkan di sektor Batubara Pengendalian/ pembatasan produksi batubara sebesar 400 juta ton akan dilakukan mulai tahun 2019.

Tentu saja, perencanaan energi nasional sebagai implementasi kebijakan energi nasional akan terasa berat bila mengandalkan bahan bakar fosil seperti yang disebutkan di atas. Bahan bakar fosil sendiri adalah bahan bakar yang non-renewable. Oleh karena itu, dibutuhkan “jembatan energi” yang dapat mempercepat ketersediaan energi, seperti ketenagalistrikan sesuai dengan jumlah kebutuhan energi yang semakin hari semakin bertambah.  Tentu saja, “jembatan energi” itu tidak bisa mengandalkan bahan bakar fosil yang non-renewable, karena selain ketersediaan bahan bakar fosil yang semakin menipis, juga persoalan emisi dan lingkungan yang cenderung merusak keseimbangan alam.

Rekayasa mandiri energi 2025-2050 seperti yang dicanangkan pemerintah dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) merupaka bentuk Peraturan Pemerintah No. 79 tahun 2014 sebagai turunan dari Undang Undang Energi No.30 tahun 2007 tentang energi.

Saat ini pemerintah sedang gencar-gencarnya membangun beberapa pembangkit energi untuk ketersediaan listrik bagi rakyat dengan menitikberatkan energi baru terbarukan (EBT) sebagai bentuk bauran energi yang harus menggantikan energi bahan bakar fosil di tahun 2025-2050. Menurut informasi yang diperoleh LANTERA, sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) mengalami peningkatan 23 persen atau sekitar 46,7 GW dengan membangun pembangkit EBT sebesar 3,6 GW per tahun. Ada juga pemanfaatan biomassa dari limbah rumah tangga dan kotoran hewan untuk kebutuhan energi. Berikut lihat gambar Tabel di bawah ini.

GTBB 1

#sumber Kementerian ESDM

 

Potensi Energi Baru Terbaurkan (EBT) sangat besar.  Hilmi Panigoro ketika ditemui LANTERA saat Dialog Energi di Hotel Mulia Jakarta beberapa bulan lalu menyampaikan bahwa investasi sektor EBT di dunia pada tahun 2015 mencapai US$ 367 milyar, naik 7% dari tahun 2014, “Ini merupakan angka yang fantastis, namun perlu ada usaha dalam mewujudkan inevstasi EBT di Indonesia,” ucap Presiden Direktur Medco Internasional ini.

Meriahnya sektor EBT di dunia, namun masih lambatnya investasi sektor EBT di Indonesia, karena selain pengembangan EBT memerlukan pendanaan besar, high tecnology, juga harga jual yang mesti ekonomis.  Namun perlu diketahui, momok investasi sektor EBT seperti sangat menakutkan, atau bisa jadi terkesan berat karena para pengusaha bahan bakar fosil tidak mau “kue energinya” terbagi ke orang lain. Kalaupun jalan, bisa jadi harus dengan holding perusahaan mereka.

Namun sayang, seperti istilah “gajah di pelupuk mata tak tampak semut di seberang lautan tampak” sangat tepat dengan kondisi negara ini. Melihat penemuan-penemuan hasil penelitian, juga memandang parameter teknologi dsb, selalu melihat atau menggunakan parameter negara lain, termasuk persoalan EBT. Padahal banyak penemu-penemu yang sudah “publicated” di dalam negeri yang bila pemerintah telaten dan mau, tentu bisa menghasilkan solusi energi yang begitu besar. Atau setidaknya penemu-penemu ini bisa diakomodasi dalam litbang-litbang di sektor ESDM.

Satu diantara temuan yang sangat menarik hasil investigasi LANTERA adalah Generator Tanpa Bahan Bakar (GTBB) Karya Kang Dicky Zainal Arifin (KDZA).  GTBB ini sangat murah, ramah lingkungan dan tidak mengeluarkan suara bising. GTBB ini ternyata dapat menghasilkan energi terus-menerus tanpa menggunakan bahan bakar. Konsep overunity/perpetual motion atau dalam bahasa KDZA menyebutnya BALARUNA merupakan energy yang berjalan terus-menerus tanpa menggunakan bahan bakar. Sedikit bahan bakar hanya diperlukan di awal menghidupkan alat ini. Setelah mesin bekerja, alat ini dapat terus memproduksi listrik tanpa bantuan bahan bakar tambahan lagi.

“GTBB ini saya beri nama BALARUNA. Reaktor BALARUNA ini sangat murah, hemat energi, ramah lingkungan, bisa dibuat dalam reaktor dengan kapasitas besar, atau bisa juga dibuat dalam bentuk portable, sesuai kebutuhan. Seperti untuk di remote area atau untuk nelayan-nelayan, ” ucap KDZA ketika ditemui LANTERA.

GTBB KD dan KE

Temuan KDZA ini sudah dipresentasikan ke Walikota Bandung, Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, Kang Aher, Wakil Gubernur Jawa Barat Kang Dedy Mizwar, Bupati Purwakarta Kang Dedi Mulyadi, Pemerintah Daerah Lampung, Kementerian Desa Tertinggal era SBY, Nahdatul Ulama, Perusahaan Swasta, Kedubes-kedubes Luar Negeri hingga institusi-institusi strategis lainnya.

Koran Kompas sendiri pernah memuat pada edisi 10 September 2014 dengan meliput langsung penemu GTBB ini, yaitu KDZA. GTBB juga pernah dipresentasikan KDZA di depan Kamar Dagang indonesia (KADIN) di Gedung Menara KADIN Jakarta pada 9 September 2014. Link-link video sendiri sudah banyak tersebar di Youtube dengan nick name GTBB+Kang Dicky, dan apabila disearch otomatis semua langsung keluar hasil nya.

GTBB 2

GTBB Buatan KDZA

 

GTBB 3

KDZA di “demplot” rumah yang ditunjuk Ridwan Kamil dalam penerapan GTBB

 

Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, Walikota Bandung mengapresiasi penelitian dan temuan KDZA. Atas inisiasinya, Kang Emil memfasilitasi “demonstrasi plot” agar GTBB dapat dioperasikan full sesuai kebutuhan masyarakat tersebut. Tentu saja, hal ini merupakan terobosan revolusioner, dimana pemerintah daerah begitu antusias mendukung program energi murah bagi kebutuhan rakyat.

GTBB 4

Masyarakat umum melihat dan merasakan sendiri alat tersebut bekerja selama 5 jam lebih di acara Culinary Night di Counter Hayam Hariwang pada acara Mandala Culinary Night Perumahan Tamansari Bukit Bandung Jl. AH Nasution tanggal 20 September 2014 lalu.

 

LANTERA sendiri berkali-kali meliput langsung penggunaan GTBB dan presentasi-presentasi yang dilakukan KDZA. Tentunya, pemerintah pusat, dalam hal ini kementerianESDM, kementerian Industri, Kementerian Kelautan, PLN, Kementerian Pertahanan dsb, harus secepatnya merespon, dan bila perlu sesegera menyusun strategi agar bauran energi 2025-2050 dapat cepat terealisir dengan mencantumkan GTBB atau BALARUNA sebagai bagian dari Energi Baru terbarukan (EBT). Tentu saja pekerjaan penelitian dan pengembangan ini harus dilakukan sedari sekarang, bila perlu disusun hingga taraf komersial, lalu meningkat ke strategi industri skala besar dengan skema proyek EBT yang murah bagi rakyat. Bravo GTBB !

Related posts:

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLinkedInAmazon Wish ListBlogger PostLineShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *