BENTURAN ANTAR KEYAKINAN

Ahmad Suaedy menyatakan dalam Kompas (10 Juni 2016) bahwa banyak orang yang tidak menyadari sesungguhnya ada wahabisme ala Indonesia. Setidaknya ia telah lahir sejak awal abad ke-20, dan berbenturan dengan wahabisme yang lahir di Arab Saudi. Wahabisme arab saudi juga menjadi basis gerakan anti nasionalisme atau kebangsaan modern.

Konspirasi “berbau” Arab tersebut menyebarkan pemahaman irasional dan sudah “meresap” dan “berbaur” dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan sanggup mengesampingkan budaya lokal yang menjunjung toleransi. Pemahaman irasional tersebut menimbulkan berbagai macam benturan, karena pemahaman tersebut mampu menggerakan sekelompok masyarakat yang tidak mau berpikir, tidak open mind, dan selalu menanggap orang lain atau kelompok lain “salah”. Sehingga wajar jika Menteri Lukman Hakim mengatakan : ” Mengkafirkan orang lain akan ditindak”. (Baca https://beritagar.id/artikel/bincang/menteri-lukman-hakim-mengkafirkan-orang-lain-akan-ditindak).

Meski masyarakat adat dari Sabang sampai Merauke berbudaya dan beragam, terdapat kesamaan pola peminggiran terhadap mereka. Indikator pertama adalah inkonsistensi hukum. Di satu sisi terdapat sejumlah instrumen hukum-termasuk konstitusi yang menhakui keberadaan mereka, tetapi sejumlah kebijakan dan produk hukum lain menyangkal keberadaan mereka. Wajar saja banyak konflik yang terjadi di Media Sosial dan sangat mungkin muncul di dunia nyata. Ini adalah salah satu bukti contoh adanya konflik tersebut (http://lantera.id/2016/06/10/fitnah-terhadap-hikmatul-iman-dalam-pandangan-hukum/).

Indikator lain menurut Sulistyowati Irianto dalam artikel berjudul Masyarakat Adat dan Keindonesiaan (Kompas, 10 Juni 2016) bahwa terdapat ketiadaan identitas hukum sebagai penghayat. Banyaknya masyarakat adat yang dipolitisi sebagai “liyan” dengan mengosongkan agama mereka di KTP menempatkan mereka sebagai kelompok yang terpinggirkan, dan menganggap mereka sebagai kelompok yang “salah”. Hal ini bertentangan dengan prinsip toleransi yang ada, dan sudah lama tergeser karena adanya konspirasi besar dengan tujuan memecah belah.

Persinggungan masyarakat adat dengan kaum penghayat dikatakan oleh Mr. Soepomo. Masyarakat adat memiliki sifat magis religius, kebersamaan, tunai dan konkret. Sifat magis religius mengacu pada keberadaan mereka yang erat dengan keyakinan tentang kesatuan diri dengan Sang Pencipta dan alam semesta yang adalah bagian dari kebudayaan.

Doktrin Mr. Soepomo tersebut realistis, dan pada kenyataannya sudah mulai bermunculan metode-metode pencarian Sang Pencipta yang terkait dengan adanya pemahaman mengenai diri sendiri dan alam semesta. Bahkan saat ini terdapat istilah Zolthaz yang bertujuan memahami Zat Tidak Dikenal dalam diri manusia. Dimungkinkan metode tersebut efektif untuk lebih memahami diri sendiri, Sang Maha Pencipta dan Alam.

Bagi mereka yang merasa paling benar tentunya akan menyalahkan adanya konsep dan pemahaman mengenai Zolthaz tersebut dengan mengeluarkan dalil-dalil yang dianggap shahih tapi “mengancam” dan menunjukkan sikap yang anti sosial, permusuhan dan bertentangan dengan ajaran agama apapun dan bahkan konflik yang ditimbulkan harus diselesaikan lewat sistem peradilan. Dengan demikian, hal ini akan menjadi beban bagi penegak hukum untuk mengadili pihak-pihak yang anti toleransi dan menhendaki perpecahan.

Upaya pencarian Sang Maha Pencipta menjadi polemik manakala pihak yang merasa sudah menemukannya meyakini kebenaran metodenya secara mutlak. Pada kenyataannya sungguh aneh ketika mereka yang memiliki Tuhan justru “menyerang” kelompok lain dan seolah-olah Tuhan menghendaki hal tersebut. Pertanyaan kritis untuk masalah tersebut adalah, apakah mungkin Sang Maha Pencipta memerintahkan ciptaannya untuk saling menyerang ? bukankah di sisi lain ciptaannya diminta untuk saling menghargai dan mengormati ?

Krisis tersebut akan selalu ada mengingat konspirasi panjang sudah memberi efek “kebodohan” bagi umat manusia, sehingga tidak mungkin konsep kebenaran dipublikasikan secara blak-blakan, karena harus menghapus efek “kebodohan” tersebut sedikit demi sedikit terlebih dahulu.

Related posts:

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLinkedInAmazon Wish ListBlogger PostLineShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *