PENDIDIKAN UNTUK ANAK

Pendidikan penting yang pertama harus dikenalkan kepada anak adalah mengenal tentang Sang Maha Pencipta. Ini penting mengingat manusia akan ditanya pertama kalinya tentang “Siapa tuhanmu”? dan tidak akan pernah ditanya mengenai dimana sekolahmu ? apa gelarmu ? berapa gajimu ? berapa rankingmu ? dan lain sebagainya. Mereka yang mengenal Sang Maha Pencipta lebih dekat, tentunya tidak akan berbuat jahat. Mengenal Sang Maha Pencipta  tidak cukup dengan pendekatan “ritual” tapi juga perlu “Spiritual”. Mereka yang hanya fokus pada “ritual” tanpa “spititual” cenderung kurang memahami eksistensi Sang Maha Pencipta. Terbukti mereka yang hanya melakukan “ritual” saja berani berbuat jahat, memfitnah, mejelek-jelekan, memfonis sesat terhadap orang lain, merasa paling benar, tidak menyukai konfirmasi, dan lain-lain. Perhatikan kasus Artis yang sering dipublikasikan  rajin dalam ritual justru tersangkut masalah kejahatan sex, Mantan Menteri Agama malah  korupsi, banyaknya orang berpendidikan melakukan perbuatan jahat (guru memerkosa murid, pelajar memerkosa rekannya, dosen terlibat narkoba, Hakim korupsi, dan lain sebagainya). Hal ini  berarti perlu pemahaman lebih jauh, apakah ritual yang dilakukan sudah benar-benar berdampak pada mengenal Sang Maha Pencipta secara lebih dekat. Pemahaman tersebut mudah didapat dengan mengakui adanya logika di atas logika. Pemahaman yang mampu mendorong peningkatan pengetahuan, seperti halnya memahami korelasi antara Zadramunha, Zoltaz,  dan Sang Maha Pencipta, yang mendorong manusia untuk lebih memahami makna dan tujuan hidup, bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Setiap anak terlahir dengan otak yang berbeda (seperti sidik jari), termasuk kemampuan, keinginan, dan kurikulum  yang sudah ter plug in di dalam otaknya. Oleh karenanya seharusnya pendidikan yang baik dan tepat untuk diterapkan adalah pendidikan yang sesuai dengan kurikulum yang ada pada dirinya. Kebanyakan anak dipaksa untuk mengikuti pendidikan yang tidak sesuai dengan kurikulum yang ada pada dirinya, yang pada akhirnya justru akan banyak menciptakan pengangguran. (Terbukti banyak data mengenai banyaknya sarjana yang menganggur setiap tahunnya).

Sependapat dengan Mendiknas yang menyatakan bahwa pendidikan tidak hanya didapat melalui jalur formal saja. Oleh karena itu walaupun tidak menempuh jalur formal, anak dapat mengikuti pendidikan sesuai minat dan bakatnya. Tugas orang tua untuk mencari minat dan bakat yang dimiliki anaknya sejak lahir agar tidak salah dalam membekali pendidikan yang bermanfaat bagi dirinya, dan harus mendidiknya untuk menjadi diri sendiri.

Terkait pendidikan pertama adalah mengenalkan tentang Sang Maha Pencipta, penting dilakukan untuk memfilter doktrin yang menekankan pentingnya nilai atau hal lain yang disejajarkan dengan Sang Maha Pencipta. Banyaknya orang tua yang menginginkan anaknya mendapatkan rangking 1 sehingga anak terfokus untuk mengejar target ranking 1 bertentangan dengan format tujuan hidup manusia yang seharusnya hanya untuk Sang Maha Pencipta. Ketika mereka ditanya kelak diakhirat tentang siapa tuhanmu ?, mereka bisa saja menjawab Ranking 1, atau hal-hal lain yang mereka lebih fokuskan.

 

Related posts:

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLinkedInAmazon Wish ListBlogger PostLineShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *