Agen Asuransi Jiwa, Profesionalkah ?

Asuransi jiwa sudah menjadi hal penting dalam hidup manusia sehingga perlu selektif dalam memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan. Permasalahan yang muncul di sisi hulu adalah, banyaknya agen asuransi yang tidak profesional dalam menjual produk asuransi dan lebih memilih mengejar komisi yang besar dari pada menjelaskan secara detail manfaat asuransi. Biasanya agen yang seperti itu kurang memperhatikan kemampuan finansial calon nasabah sehingga menyiapkan ilustrasi dengan premi yang tidak sesuai kebutuhan nasabah. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi ? Pada tahapan awal, calon agen ditempa dengan ujian oleh Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia dengan biaya yang cukup tinggi (biaya ujian tersebut sempat turun di tahun 2013). Calon agen hanya diminta mempelajari tutorial saja tanpa ada penjelasan secara detail, padahal isi tutorial tersebut terkait dengan hukum asuransi. Bagaimana mungkin calon agen yang bukan berlatar belakang sarjana hukum memahami prinsip-prinsip hukum asuransi ? . Tahap selanjutnya agen diberi pemahaman mengenai komisi dan bonus-bonus yang menggiurkan oleh leadernya dari perusahaan asuransi. Tahap selanjutnya yaitu product knowledge, akan tetapi tahapan ini belum juga diperhatikan oleh perekrut agen tersebut, sehingga masih terdapat leader yang menjelaskan produk asuransi pada sesi terakhir, padahal tahapan tersebutlah yang merupakan hal terpenting untuk disampaikan kepada calon nasabah. Kesalahan dalam menyampaikan mengenai produk asuransi berakibat terhadap kerugian finansial bagi nasabah. Dengan demikian calon nasabah seharusnya menanyakan secara detail manfaat asuransi jiwa bagi dirinya dan keluarganya kepada agen tersebut dan mencoba mencari tahu manfaat yang asuransi dengan membandingkan dengan produk dari asuransi lain. Di samping itu calon nasabah tidak perlu melihat background agen asuransi yang mungkin saja merupakan saudara atau sahabat, tetapi lebih mementingkan kompetensi profesional dari agen tersebut. Kesalahan dalam memilih agen dapat berakibat : 1) nasabah tidak membaca isi polis secara keseluruhan, karena menganggap informasi mengenai asuransi sudah cukup dari agen; 2) nasabah tidak mengetahui batasan-batasan apa saja mengenai klaim yang tidak bisa dilakukan; 3) nasabah tidak mengetahui lembaga apa yang memiliki kewenangan menjadi mediator ketika tertanggung tidak dapat melakukan klaim. Terkait dengan hal tersebut, tidak banyak agen yang mengetahui bahwa Badan Mediasi Asuransi Indonesia (BMAI) dapat menjadi fasilitator untuk menyelesaikan sengketa antara penanggung dengan tertanggung. Tidak banyak juga asuransi yang menyimpan flyer mengenai keberadaan BMAI di meja pelayanan sehingga informasi keberadaan BMAI terkesan ditutup-tutupi. Di samping itu hanya sedikit saja pemerhati asuransi yang mau melakukan sosialisasi mengenai manfaat asuransi berdasarkan kebijakan asuransi kepada masyarakat. Di samping itu, peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga kurang dipahami masyarakat sebagai salah satu lembaga yang mampu memberikan solusi mengenai adanya sengketa asuransi. Menurut data hasil survey OJK tahun 2013, hanya sekitar 21,84 % masyarakat Indonesia yang benar-benar paham mengenaiLembaga Jasa Keuangan. Dengan demikian terdapat masalah minimnya sosialisasi pada kedua lembaga tersebut. Pemahaman mengenai kedua lembaga tersebut tidak pernah disosialisasikan oleh perusahaan asuransi kepada agennya, sehingga wajar jika agen asuransi kurang memperhatikan prinsip kehati-hatian dalam mengarahkan nasabahnya untuk mengisi formulir SPAJ. Produk asuransi jiwa tidak dapat dilihat, dengan demikian agen harus mampu menjelaskan sistem asuransi jiwa secara detail kepada nasabahnya. Cukup banyak masyarakat yang merasa terganggu karena adanya agen asuransi yang menawarkan produk asuransi dengan “memaksakan diri”. Cara-cara penyampaian informasi yang tidak bermanfaat seperti lebih baik menabung di perusahaan asuransi dari pada di bank sering disampaikan oleh agen untuk mempengaruhi calon nasabah, padahal penyampaian informasi seperti itu bukanlah bentuk sikap agen profesional. Agen asuransi profesional hanya menjelaskan produk secara detail tanpa harus membandingkan dengan produk lembaga keuangan lainnya. Dampak yang ditimbulkan yakni, banyaknya masyarakat yang menolak pertemuan dengan agen asuransi sehingga kelompok masyarakat yang sesungguhnya membutuhkan manfaat asuransi tidak mendapatkan pelayanan yang seharusnya. Dampak dari tidak tercapainya target komisi yang telah direncanakan oleh agen asuransi yaitu berhenti menjadi agen asuransi, dan menyerahkan sepenuhnya polis yang pernah ditandatangani antara agen dengan nasabah kepada perusahaan asuransi jiwa. Dalam hal ini hanya perusahaan asuransi jiwa yang diuntungkan, karena perusahaan asuransi tidak perlu lagi membayar komisi kepada agen yang mengundurkan diri, dan dapat menikmati keuntungan dari premi yang telah dijanjikan nasabah selama kurang lebih 10 tahun. Jika selama menjadi agen belum pernah mendapatkan nasabah dan pada akhirnya mengundurkan diri, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mendapatkan keuntungan dari uang pendaftaran ujian para calon agen. Perpanjangan lisensi dari AAJI pun hanya sebatas membayar uang yang seharusnya digunakan untuk ujian keagenan pada level selanjutnya, namun ujian tersebut sangat jarang diselenggarakan, agen hanya membayar uang perpanjangan lisensi dan menerima kartu keagenan yang baru tanpa perlu ujian terlebih dahulu. Jadi, apakah tujuan sebenarnya dari dilaksanakannya ujian keagenan bagi calon agen asuransi ?

 

Related posts:

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLinkedInAmazon Wish ListBlogger PostLineShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *